Showing posts with label wisata kota. Show all posts
Showing posts with label wisata kota. Show all posts

Monday, June 30, 2008

Wisata Kota Semarang

Semarang adalah kota kelahiran saya, TK-SD-SMP juga saya tempuh di kota ini. Meskipun kuliah dan bekerja tidak di Semarang, tetapi domisili saya masih tetap di Semarang. Setelah beberapa bulan sejak membuat blog, saya baru sadar bahwa Semarang belum saya bahas sama sekali dalam blog. Maklum ke Semarang berarti pulang dan tidak terasa berwisata meskipun sebenarnya banyak hal bisa dilakukan di Semarang untuk wisata kota.

Bagaimana cara ke Semarang

Banyak cara dan jalan ke Semarang. Dengan pesawat udara terdapat Garuda, Mandala, Sriwijaya, Batavia, Lion, dan Linus yang terbang tiap hari ke Semarang dari Jakarta. Dari Surabaya ada Sriwijaya yang terbang sekali tiap hari. Dari Pontianak ada Batavia meskipun tidak tiap hari. Garuda juga punya rute Singapur-Semarang langsung meskipun tidak tiap hari. Dari kota lainnya harus transit di Jakarta atau Surabaya.

Dengan kereta api, banyak kereta ke Semarang dari Jakarta baik ekonomi (Tawang Jaya, Matarmaja, Brantas, Kertajaya), bisnis (Senja Utama Semarang, Fajar Utama Semarang, Bangunkarta, Gumarang) maupun eksekutif (Argo Sindoro, Argo Muria, Kamandanu, Argo Bromo, Gumarang, Sembrani). Dari Bandung terdapat Harina, kelas eksekutif. Dari Surabaya terdapat Rajawali, Argo Bromo, Sembrani, dan Gumarang untuk kelas eksekutif, Kertajaya untuk kelas ekonomi, dan Gumarang untuk kelas bisnis. Dari Solo dapat menggunakan Pandan Wangi (bisnis dan ekonomi), Bangunkarta (bisnis), Brantas dan Matarmaja (ekonomi).

Bus antar kota dan antar propinsi banyak yang menuju Semarang atau melewati Semarang dari berbagai kota di Pulau Jawa. Beberapa travel juga memiliki tujuan ke Semarang. Beberapa kapal laut juga berlabuh di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang terutama dari Pulau Kalimantan.

Akomodasi

Hotel di Semarang cukup banyak, tersebar baik di pusat kota, Semarang atas, dan Semarang bawah. Jika ingin berwisata kota sebaiknya mencari hotel di dekat kawasan Simpang Lima. Tarif hotel bervariasi dari bintang lima sampai melati ada di Semarang. Dibandingkan Jakarta atau Bandung, tarif hotel di Semarang relatif lebih murah. Di dekat stasiun kereta api banyak terdapat hotel kecil, murah, dan sederhana, tetapi sebaiknya waspada karena daerah ini sering terjadi rob (banjir karena pasang air laut).

Transportasi

Transportasi umum di Semarang terdiri dari taksi, angkot (sering disebut daihatsu), bus kota, bus kecil (setipe kopaja di Jakarta), becak, dan ojek. Taksi di Semarang menggunakan argometer. Jika tidak menggunakan argo sebaiknya dibatalkan. Jumlah taksi cukup banyak dan karena Semarang bukan kota yang luas, tarif taksi relatif murah. Bus kota Damri hanya melayani beberapa rute jalan utama. Bus kecil memiliki rute yang lebih banyak dan lebih jauh, bahkan sampai Salatiga, Ungaran, Ambarawa, dan Kendal. Meskipun jumlah daihatsu (angkot) cukup banyak, rutenya sedikit dan banyak jalan yang tidak terlewati serta jalannya agak lambat. Jika waktu anda untuk wisata kota hanya sedikit sebaiknya tidak menggunakan daihatsu. Beberapa daerah di Semarang termasuk simpang lima tersedia becak untuk jarak dekat. Becak di Semarang sangat nyaman karena lebar dan jalannya stabil. Ojek hanya terdapat di beberapa daerah terutam komplek perumahan, bandara, dan stasiun.

Makanan

Seperti yang pernah disampaikan Pak Bondan di TransTV, kuliner di Semarang kompleks, karena berbagai budaya dan jenis kuliner ada di Semarang. Anda bisa menemukan kuliner asli Jawa Tengah, kuliner peranakan, dan campurannya. Tetapi untuk wisata kota, ada beberapa makanan yang wajib anda cicipi.

Lumpia adalah makanan paling terkenal dari Semarang. Makanan ini bahan utamnya adalah rebung (tunas bambu) yang dicampur dengan telur, ebi, kepiting, dan berbagai bumbu sehingga rasanya memang enak. Lumpia terenak (dan termahal) ada di gang Lombok, agak sulit mencapainya dan buka hanya jam 9 pagi sampai 5 sore (kalau masih kebagian). Selain itu ada juga di Mataram (Jl MT Haryono) dan Jl Pemuda. Di Jl Pandanaran yang merupakan pusat oleh-oleh juga ada meskipun rasanya masih kalah dari lumpia di gang Lombok.

Soto ayam semarang adalah makanan yang juga terkenal dan segar dari Semarang. Selain soto dengan mangkuk kecil, yang khas lainnya adalah tambahan lauk berupa sate kerang, sate telur puyuh, tempe goreng, perkedel, hati ayam, telur pindang, dan lain-lain. Ada banyak tempat yang menjual soto semarang. Menurut saya yang enak untuk sarapan adalah soto stadion (di depan stadion Diponegoro) dan soto Bokoran. Tapi di Bokoran anda harus siap-siap rebutan dan antri di dapur jika datang pada minggu pagi. Ada beberapa soto ayam semarang yang buka malam hari, salah satunya soto ayam P Moel di perempatan Thamrin dan Pekunden.

Nasi ayam adalah kuliner kaki lima andalan dari Semarang. Nasi ayam mirip nasi liwet Solo, terdiri dari Nasi, tahu, telur pindang, suwiran ayam, kuah opor ayam (encer dan kental), dan sambel goreng (berisi labu dan rambak). Semuanya dihidangkan dengan alas daun pisang. Ada banyak penjual nasi ayam di Semarang, paling banyak di Mataram. Nasi Ayam adalah menu malam dan buka mulai sekitar jam 5 sore. Yang paling enak menurut saya adalah nasi ayam Yu Nah di Mataram. Rasanya enak, mengenyangkan, harganya murah (15000-an berdua termasuk sate, krupuk dan minum), satenya lengkap (usus, telur puyuh, hati ayam, ampela, jantung, dan lain-lain), meskipun harus antri terutama minggu malam (kadang jam 8 malam sudah habis).

Tahu Pong adalah makanan khas Semarang yang terdiri dari telur, tahu, gimbal yang diberi kuah kecap dan bumbu-bumbu. Salah satu yang enak ada di Jl Karangsaru di daerah Mataram dan di Jl Gajah Mada.

Selain keempat makanan di atas, masih ada sop buntut plus ayam goreng (P Paimin dan P Supar), nasi pecel, nasi gandul, tahu campur (tahu gimbal), mie Jowo, bistik kambing, nasi goreng babat, cap cay khas Semarang dan berbagai chinesse food lainnya, sea food, dan sebagainya. Bagi anda yang beragama Islam agar berhati-hati terutama bila membeli makanan di daerah pecinan karena beberapa diantaranya mengandung babi. Jika ragu sebaiknya anda bertanya ke penjualnya. Tidak usah sungkan karena mereka sudah biasa ditanya hal tersebut.

Tempat

Dengan waktu pendek dalam berwisata kota, anda harus mengunjungi tempat-tempat berikut ini agar bisa disebut sudah pernah ke Semarang.

Simpang Lima

Simpang Lima dianggap sebagai alun-alunnya Semarang. Disebut Simpang Lima karena bundaran besar berupa lapangan rumput ini merupakan pertemuan lima jalan besar yaitu Jl A Yani, Jl Pandanaran, Jl Gajah Mada, Jl Ahmad Dahlan, dan Jl Pahlawan. Bagi warga Semarang, Simpang Lima merupakah pusat kegiatan dan hiburan. Selain dikelilingi Mal Citraland, Matahari, dan Ramayana, Masjid Baiturahman juga ada di Simpang Lima. Pada sabtu malam dan minggu pagi, Simpang Lima menjadi pasar dadakan untuk kaki lima, wisata dokar (kereta kuda) dan berbagai acara hiburan. Anda harus ke tempat ini dan mengelilinginya paling tidak sekali.

Jika anda ingin makan di Simpang Lima sebaiknya bertanya harganya terlebih dahulu daripada menyesal karena terlalu mahal dan tidak semua makanan di daerah ini enak.

Lawang Sewu

Lawang Sewu artinya adalah pintu seribu saking banyaknya pintu. Jendela-jendela gedung ini dibuat panjang seperti pintu sehingga cukup membingungkan bagi yang belum pernah ke tempat ini. Sayangnya belum pernah ada yang berhasil menghitung berapa jumlah pintu sebenarnya. Lawang Sewu mulai terkenal setelah sering masuk TV, tetapi sudah dikenal seluruh warga Semarang sejak dulu. Di depannya terdapat Tugu Muda untuk menghormati pahlawan dalam Pertempuran Lima Hari di Semarang. Saat ini pengunjung dapat masuk ke lawang sewu untuk menguhi nyali atau sekedar melihat-lihat. Tapi jika waktu anda pendek anda cukup berfoto di depannya, atau melewatinya. Di dekat lawang sewu ada Mall baru yaitu DP Mall.

Pecinan

Kawasan Pecinan semarang masih terjaga dengan baik dan merupakan pusat perekonomian di Semarang. Di pagi dan siang hari anda dapat datang ke pasar Gang Baru untuk melihat suasana pecinan yang lebih terasa. Buah-buahan dan hasil laut terbaik di Semarang ada di pasar ini. Di malam hari kawasan Pecinan terkenal dengan kuliner kaki lima yang selain murah juga enak-enak. Sayangnya transportasi umum di kawasan ini agak sulit. Jika anda ingin jalan-jalan sebaiknya menggunakan becak karena akan lebih praktis.

Kota lama

Daerah kota lama terkenal karena banyaknya bangunan tua dan kuno peninggalan Belanda. Daerah kota lama dekat dengan stasiun Tawang. Bangunan paling terkenal disini adalah Gereja Blenduk. Jika anda akan ke kota lama sebaiknya tidak pada malam hari karena agak gelap dan agak rawan.

Semarang atas

Pada malam hari, jika anda berada di daerah Gombel atau daerah Semarang atas lainnya, anda dapat melihat indahnya lampu-lampu di Semarang bawah di malam hari. Pada siang hari anda dapat melihat Semarang bawah sampai ke laut Jawa. Di Gombel banyak restoran dan kafe yang menawarkan pemandangan malam hari ini.

Oleh-oleh

Tempat membeli oleh-oleh di Semarang adalah di Jl Pandanaran. Di jalan ini berjajar toko oleh-oleh dan pedagang kaki lima. Pedagang kaki lima pada umumnya menjual wingko dan lumpia dengan kualitas dan harga dibawah di toko. Anda tidak perlu ragu untuk menawar semurah-murahnya. Di kawasan ini anda dapat membeli bandeng presto (dan turunannya), wingko babat, lumpia, dan berbagai jenis makanan lainnya. Satu lagi oleh-oleh khas Semarang yang sekarang banyak dibeli adalah kue moaci. Meskipun namanya mirip kue moci di cipanas, tapi bentuk dan rasanya berbeda. Lebih banyak orang yang menyukai kue moaci Semarang karena tidak ada tepung di luarnya sehingga tidak mengotori tangan. Jika anda membeli lumpia untuk oleh-oleh sebaiknya dekat dengan waktu berangkat karena hanya bertahan satu malam. Jadi jika akan pulang ke Jakarta dan naik kereta malam, sebaiknya membeli lumpia sore hari dan sesampainya di Jakarta langsung digoreng lagi. Untuk bandeng dan wingko babat lebih tahan lama.

Selamat berwisata kota di Semarang, cukup dua hari maka anda sudah merasakan Semarang lewat Soto ayam, Lumpia, Nasi Ayam, Tahu Pong, mengelilingi Simpang Lima, menyusuri Pecinan, berfoto di Lawang Sewu dan Kota Lama serta membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Jl Pandanaran.

Tuesday, May 13, 2008

Perjalanan ke Subang, wisata kota

Pada bulan Mei ini, wisata kota kali ini ke Subang karena saya dan istri mendapat undangan pernikahan saudara. Istri saya sudah pernah ke kota Subang tetapi sudah lama sekali sehingga tidak hapal jalan, sementara saya belum pernah ke kota Subang. Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, kami memutuskan dari Jakarta lewat terminal Kampung Rambutan daripada dari Bandung lewat Lembang. Sebenarnya kami pingin main ke Bandung dulu, tetapi karena transportasi Bandung-Subang lebih rumit, kami memilih dari Jakarta langsung Subang. Bentuk kabupaten Subang memanjang dari pantai utaran ke selatan, berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Purwakarta. Kota Subang terletak di sebelah selatan sehingga lebih sejuk daripada Subang bagian pantai utara.

Kami berangkat jam 09.00 dari Depok ke Kampung Rambutan dengan angkot 112. Sampai di Kampung Rambutan, setelah sempat melalui pengalaman nggak enak di dalam terminal (cerita lengkapnya di “Terminal Kampung Rambutan yang buruk”), kami naik bus AC ke Subang (PO Warga Baru). Total perjalanan sekitar 3 jam karena banyak berhenti di luar terminal, UKI, dan banyak tempat lainnya. Perjalanan Jakarta-Subang melewati tol Cikampek, keluar Sadang Purwakarta, Kalijati, dan Berakhir di Terminal Subang. Bus sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Meskipun bus AC tapi bukan patas dan banyak penumpang yang berdiri, tarif Rp 15.000,- per orang.

Berdasarkan searching di internet, saya memutuskan untuk ke Subang Plaza Hotel karena letaknya di pusat kota. Dari terminal saya naik angkot sekali dengan tarif Rp 2000,- per orang. Perjalanan sekitar 10 menit melewati Jl Otista yang merupakan jalan utama di kota Subang dan kami sampai di pertigaan di depan Subang Plaza Hotel dan turun. Sayang sekali, ternyata hotelnya sudah bangkrut, kayaknya cocok banget untuk setting film horor. Bangunannya besar, dengan halaman luas, dan model lama. Berarti situs pemda Subang nggak diupdate karena masih tertulis tarifnya mulai Rp 115.000,-.

Berdasarkan info di internet ada satu hotel lagi di jalan R Suprapto, kami lupa nama dan alamatnya. Mengingat hari sudah siang dan perut keroncongan, kami akhirnya makan siang di timbel kaki lima di depan hotel Subang Plaza. Timbelnya enak, meskipun tidak seenak timbel Istiqomah Bandung (apa karena laper banget ?), tapi murah banget. Dua nasi, satu mujair, satu ikan mas, tiga tahu, ditambah sambal yang enak hanya Rp 9.500,-. “Makasih banget Pak”.

Bapak timbel ini juga informatif, hotel yang bagus katanya di Jl Otista, 50 m dari pertigaan, namanya Diamond. Ketika saya tanyakan dengan hotel lain di Jl R Suprapto (ternyata namanya hotel Sederhana) katanya lebih bagus di Diamond. Hotel lain namanya Panglejar, masuk gang. Kami memilih Diamond dan jalan kaki ke hotel tersebut.

Hotelnya lumayan, ada banyak kelas, kami memilih yang ada AC dan TV-nya dengan tarif Rp 165.000,- per malam. Capek, panas, dan kenyang, tibalah rasa kantuk, akhirnya tidur. Malam hari kami berjalan-jalan di pusat kota dan ke pasar pujasera. Menurut resepsionis hotel, pusat kota ya pertigaan Subang Plaza tadi. Kami lihat untuk ukuran malam minggu, pusat kota Subang terlalu sepi, lapangan luas di depan kantor pemerintah juga gelap. Dari pertigaan kami ke pasar Pujasera untuk mencari makan malam. Bayangan kami, pujasera artinya pusat jajanan serba ada, mirip food court di mall. Ternyata itu hanya nama untuk beberapa ruko dan di belakangnya ada pasar. Ada banyak kaki lima penjual sate, timbel, dan makanan kecil. Di pujasera ini suasananya lebih ramai. Kami memilih sate dan sop kaki kambing serta membeli beberapa gorengan.

Yang unik, penjual sate di Subang kebanyakan ibu-ibu (mungkin karena calon bupatinya perempuan). Penjual gorengan juga menjual pisang molen dan kue-kue kecil lainnya. Sayangnya sate dan sop yang kami santap rasanya kurang mantap. Satu porsi sate, sop kaki kambing, dan dua nasi Rp 24.000,-. Kayaknya lebih enak timbelnya. Saat makan, tiba-tiba turun hujan deras disertai angin kencang sehingga membatalkan kami untuk berjalan-jalan lebih jauh. Kami memutuskan untuk pulang, dan sempat melihat gang menuju hotel Sederhana yang agak gelap. Menurut resepsionis hotel, oleh-oleh ada di Pujasera ini, tapi kami hanya menemukan dodol nanas di salah satu toko. Sebelum ke hotel kami mampir dulu di Yogya Swalayan yang sangat sesak pengunjung untuk mencari oleh-oleh lain, tapi tidak ada.

Pagi harinya kami datang ke pernikahan dengan naik becak ke daerah pasar panjang. Disebut pasar panjang karena para pedagang berada sepanjang Jl Sutaatmaja. Selesai acara kami balik ke hotel dan persiapan pulang ke Jakarta. Dari hotel kami naik angkot ke terminal bus Subang. Selama dua hari di Subang kami melihat bahwa angkot disini agak sepi penumpang sehingga sering ngetem. Kami memilih angkot yang hampir penuh supaya tidak ngetem. Angkot yang kami naiki ternyata sebenarnya bukan rute terminal, tapi ia mau mengantarkan kami ke terminal tanpa tambahan biaya. Sebelum sampai terminal dan di terminal, kami melihat beberapa angkutan ke Lembang, mobilnya model Elf lama. Kami beruntung lewat Jakarta dan tidak lewat Bandung, kebayang panas dan sesak di dalam elf tersebut, padahal perjalanan juga tidak dekat.

Sampai di terminal Subang kami naik bus AC jurusan Lebak Bulus. Selain karena trauma kejadian di Kampung Rambutan, bus ini juga berhenti di Pasar Rebo, jadi kami lebih cepat ke Depok. Tarif Subang-Lebak Bulus sama Rp 15.000,- per orang, busnya juga PO Warga Baru, kayaknya memang PO ini yang menguasai rute Jakarta-Subang. Perjalanan Subang-Jakarta tiga jam juga, penumpang lebih banyak yang berdiri, kebanyakan naik dari Kalijati. Rutenya sama, Kalijati, Sadang, Tol Cikampek, keluar Cawang, masuk Tol lagi dan keluar di Pasar Rebo. Di Pasar Rebo kami turun dan naik angkot ke Depok. Berakhirlah perjalanan wisata kota Sabtu-Minggu kali ini ke Subang.

Sayangnya tidak banyak oleh-oleh yang bisa dibawa. Warung oleh-oleh terlihat banyak di pinggir jalan menuju Kalijati. Selain buah nanas dan olahannya yang jadi hasil utama Subang, juga ada krupuk sangrai. Kami tidak mungkin turun dari bus untuk membeli oleh-oleh di pinggir jalan. Sepertinya warung oleh-oleh dikhususkan untuk mereka yang naik mobil pribadi.

Kesan kami, kota ini masih sepi, kurang berkembang meskipun dekat Jakarta dan banyak orang yang mengenalnya.

Tuesday, April 29, 2008

Perjalanan ke Samarinda, wisata kota

Bagian ketiga

Pada hari ketiga kami kembali ke Balikpapan. Setelah sarapan dan packing oleh-oleh kami check-out dan naik angkot ke arah terminal Sekunjang. Berdasarkan informasi dari internet kami memutuskan menunggu bus di dekat jembatan Mahakam. Memang di tempat tersebut sudah menunggu bus ke Balikpapan yang sedang ngetem, sayangnya bus ini tidak menggunakan AC. Berdasarkan pengalaman perjalanan Balikpapan-Samarinda, lebih baik kami menunggu bus AC. Ternyata frekuensi bus AC sangat jarang dan setelah 1 jam lebih kami menunggu atau 7 bus non-AC lewat baru bus AC datang. Setelah ngetem beberapa menit akhirnya bus berangkat.

Kami melewati jalan yang sedikit berbeda di kawasan Samarinda seberang dan melewati daerah yang mengalami kebakaran malam sebelumnya. Perjalanan ternyata lebih nyaman dan badan tidak terlalu terguncang-guncang sehingga kami tertidur cukup lama. Setelah 2,5 jam perjalanan kami sampai di terminal Batu Ampar. Kami lanjutkan dengan angkot 2A ke terminal angkot Damai. Dari terminal Damai kami mencari hotel di dekat Balikpapan Mall. Setelah mendapatkan hotel yang sederhana tapi agak mahal (dibandingkan Samarinda) kami makan siang ke pasar Kebun Sayur. Untunglah meskipun sudah agak sore kami masih kebagian udang galah bakar dan cumi bakar khas Banjarmasin yang segera kami santap. Sebelum pulang ke hotel kami sempat beli beberapa kaos lagi untuk oleh-oleh. Pasar Kebun Sayur adalah pusat oleh-oleh di Balikpapan. Karena sudah dua kali ke Balikpapan kami sudah hafal dan tidak membeli oleh-oleh lain.

Malam harinya kami sempatkan ke Balikpapan Mall sekedar cuci mata dan bersantai. Makan malam kali ini sate di dekat bioskop. Meskipun di taman sebelah bioskop banyak pedagang makanan saya hanya tertarik sate. Sayangnya setelah disantap di hotel rasanya biasa saja.

Hari Selasa pagi sekitar jam 9.30 WIT kami berangkat ke Bandara dengan fasilitas antaran dari hotel. Setelah mengurus tiket dan check in kami menunggu di boarding lounge. Mahal juga Airport Tax Balikpapan, sama dengan Jakarta Rp 30.000,-. Di toko di dalam boarding lounge kami membeli kaos ukuran kecil untuk anak tercinta yang ditinggal di Semarang.

Pada saat berangkat dari hotel kami merasa kenyang sehingga tidak terpikir untuk menyiapkan bekal makan siang. Pesawat yang dijadwalkan berangkat jam 1 siang dan penerbangan selama 2 jam tanpa snack (naik Mandala sekarang tidak ada snack) bisa membuat kelaparan di dalam pesawat nanti. Saya keluar dari boarding lounge dan pergi ke parkiran taksi bandara. Biasanya di tempat seperti ini ada warung untuk para sopir taksi. Bener juga, ada satu warung sederhana menjual makanan dan minuman. Saya minta satu porsi nasi bungkus dengan sayur, telor bulat, dan tahu.

Tebak berapa harganya ? Rp 15.000,-. Mahal benar. Di Balikpapan makanan memang mahal, tapi ini kan di parkiran taksi. Masih lebih murah di bandara Cengkareng. Tapi untunglah saya sempet membeli nasi bungkus tersebut, setelah setengah jam take off, mulai deh kelaparan menyerang. Bau POP-mie beberapa penumpang yang membeli on-board memaksa kami membuka nasi bungkus, dan ternyata rasanya enak banget.

Penerbangan Balipapan-Jakarta lancar tapi landingnya masih lebih halus waktu di Balikpapan. Pesawatnya Airbus A319 registrasi PK-RMF dengan Capt Nasa’i Yusron. Keluar terminal C saya mampir ke kantor untuk menitipkan oleh-oleh makanan. Berakhirlah perjalanan wisata kota kami kali ini ke Samarinda.

Syarat wisata kota telah terpenuhi : menginap (hotel Andhika), makan makanan khas (ikan puyu bakar dan warung jinggo), berkeliling kota dengan tranportasi umum (angkot), main di pusat perbelanjaan (SCP dan Lembuswana), serta membeli oleh-oleh khas Samarinda (kaos, sarung, dan amplang).

Tuesday, April 22, 2008

Perjalanan ke Samarinda, wisata kota

Bagian kedua
Setelah sampai di Terminal Sei Sekunjang dan bus parkir pada tempatnya, kami keluar dari terminal untuk naik angkot. Begitu keluar dari bus panasnya minta ampun. Langsung terasa kering dan pusing. Kami menggunakan angkot warna hijau untuk ke pusat kota dan mencari hotel. Sebagai acuan kami meminta diantar ke Samarinda Central Plaza (SCP) karena angkot di Samarinda tidak memiliki rute tetap. Kita harus bertanya sebelum naik apakah mereka mau mengantar ke tujuan yang kita inginkan. Meskipun angkot dibedakan menjadi beberapa warna dan huruf ternyata hanya membatasi daerah operasinya.
Setelah berputar-putar mengantar penumpang lainnya, ternyata sopir angkot salah pengertian dan kami diantar ke Plaza Samarinda. Plaza ini kumuh dan tutup. Setelah melihat peta kami memutuskan berjalan kaki ke SCP karena jaraknya tidak terlalu jauh. Meskipun jaraknya tidak terlalu jauh tetapi karena panas, sampai di SCP kami seperti dehidrasi dan harus beristirahat sambil minum milo. Sambil beristirahat kami observasi mall SCP. Meskipun berukuran sedang tapi sangat ramai, setelah dirasa cukup kami keluar mall.
Setelah agak pulih kami berjalan kaki mencari hotel yang murah tetapi layak. Meskipun di beberapa blog dan berdasarkan informasi teman bahwa Samarinda biaya hidupnya lebih murah dibandingkan Balikpapan ternyata hotelnya tidak jauh berbeda tarifnya dengan Balikpapan. Setelah berpanas-panas dan bertanya ke beberapa hotel akhirnya kami menginap di Hotel Andhika. Setelah memilih kamar dengan fasilitas air panas kami langsung mandi dan tidur.
Bangun tidur ternyata sudah malam dan saya mencari makan malam. Akhirnya saya beli sate madura untuk makan malam di hotel. Lumayan enak dan kenyang.
Hari kedua, hari minggu, kami langsung ke Citra Niaga untuk membeli oleh-oleh. Dengan sekali angkot kami sampai di pasar oleh-oleh. Meskipun pasar ini pernah terbakar dan bekasnya masih ada tapi toko-toko yang tersisa masih banyak dan menawarkan banyak variasi oleh-oleh, mulai dari kaos, batu-batuan, sarung, kain, dan kerajinan lain. Sayangnya tidak ada oleh-oleh makanan seperti amplang atau kuku macan di pasar ini. Setelah memilih beberapa kaos dan sarung kami kembali ke hotel karena tidak kuat panasnya.
Agak siang, kami pergi melihat mall Lembuswana. Mall yang lumayan luas daripada SCP dan lebih ramai. Samarinda benar-benar kota yang padat, apalagi pas weekend, seakan-akan semua tumpah ruah di mall untuk refreshing. Kami hanya melihat-lihat, beli es milo di KFC buat menambah tenaga. Maklum panasnya benar-benar menyedot tenaga. Pas mau balik, kami lihat ada Gramedia di belakang mall. Rencananya cuma mau lihat-lihat saja, ternyata ada obralan buku dan VCD. Buku-buku Disney aktivitas buat anak yang biasanya harganya puluhan ribu diobral 2 ribu- 3 ribu saja. VCD film seri Alias, BBC seri pengetahuan diobral menjadi 3 ribuan. Langsung deh borong Alias 1st dan 2nd season total 16 pcs.
Setelah puas melihat-lihat, kami cabut untuk makan di rumah makan "Martapura" di jalan Juanda. Kami waktu itu yang memang pengen makan masakan khas Banjar (terutama udang galah bakarnya) secara gak sengaja melihat rumah makan ini waktu perjalanan dari terminal menuju kota. Sayang benar-benar sayang, udang galahnya sudah habis. Benar-benar nggak hoki, akhirnya kami pilih ikan puyu bakar yang enak juga dan jarang dijumpai di Jawa.
Habis itu kami balik lagi ke SCP, karena kemarin rasanya belum benar-benar lihat karena capek perjalanan. Beli beberapa mainan buat anak yang harganya juga miring. Ketika mau balik ke hotel karena sudah sore, baru ingat kita pengin cobain warung jinggo yang terkenal di Jl. Irian, ternyata persis depan SCP.
Warung Jinggo berupa warung tenda dengan berbagai masakan. Mungkin kalo di Jogya seperti angkringan, di Semarang seperti warung nasi kucing. Ada nasi pahundut khas Banjar (sory kalo salah, nasi pakai santan dan dibungkus daun pisang rasanya gurih), nasi rendang, telur penyu, bermacam-macam sate, susu kedele, dsb. Mejanya panjang tapi penuh dengan makanan.
Setelah membungkus makanan untuk makan malam nanti, kamipun bergegas pulang ke hotel.
Malamnya, kami mau cari oleh-oleh makanan untuk orang rumah dan teman-teman. Kami diberitahu orang hotel untuk mencari di jalan AM Sangaji ("Karya Bahari"). Sebenarnya tidak terlalu jauh tapi karena tidak begitu terang, jadi rasanya jauh dan tidak sampai-sampai. Karena niatnya memang untuk jalan-jalan apalagi karena hari terakhir kami di Samarinda, maka kamipun pergi dan pulang jalan kaki. Sempat pengen lihat bandara Temindung karena sudah dekat tapi ya itu karena penerangan tidak terlalu baik jadi nggak sampai.

Wednesday, April 16, 2008

Perjalanan ke Samarinda, wisata kota

Bagian pertama


Sudah menjadi agenda rutin saya dan istri untuk berwisata kota dengan terget satu kota tiap bulan. Bulan april ini kota Samarinda yang menjadi tujuan kami. Kami sudah dua kali ke Balikpapan tetapi belum pernah ke Samarinda. Meskipun Samarinda adalah ibukota propinsi Kalimantan Timur pesawat komersial sekelas 100 penumpang hanya dapat landing di Balikpapan. Oleh karena itu untuk ke Samarinda kita harus menggunakan penerbangan Jakarta-Balikpapan terlebih dahulu.

Kami berangkat dari Jakarta pada tanggal 4 April 2008 dengan penerbangan pagi Mandala. Keluar dari kos sekitar pukul 03.00 WIB, naik angkot ke Pasar Minggu dan sampai sekitar setengah jam kemudian untuk naik bus Damri Pasar Minggu-Bandara pemberangkatan pertama pukul 04.00 WIB. Tiba di bandara Soekarno-Hatta sekitar 50 menit kemudian. Langsung check-in dan pesawat berangkat on schedule 6.15 WIB. Kali ini kami menggunakan pesawat Airbus A319 dengan registrasi PK-RMD. Penerbangan sekitar 1 jam 50 menit terasa sangat lama, apalagi saya tidak bisa tidur meskipun mengantuk berat akibat bangun terlalu pagi. Untungnya saya sudah siap roti dan minuman kotak untuk mengisi perut. Sebagian besar penumpang menyantap mie-cup yang dijual di dalam pesawat. Sayang sales on board hanya mie-cup yang dapat dipilih oleh penumpang. Bau khas mie dan kondisi nggak tahu mau ngapain memang menggoda untuk ikut membeli mie-cup dan kayaknya memang sebagian besar penumpang membeli karena hal ini.

Penerebangan cukup mulus, mungkin karena penerbangan pagi dan cuaca cukup cerah. Mendarat di Balikpapan sangat mulus sampai kami tidak merasakan kapan touch-down (saat roda pendarat menyentuh landasan pertama kali saat landing), terimakasih buat Captain. Keluar dari ruang kedatangan kami ke kantor Mandala untuk memastikan rute dan alat transportasi ke Samarinda.

Keluar dari terminal bandara Sepinggan kami langsung naik angkot (di Balikpapan disebut taksi) nomor 07 untuk sarapan di kepiting Nandito. Kepiting saus yang kami santap bumbunya enak tapi sayangnya kepitingnya kurang segar dan cukup mahal (Rp 100.000,- untuk 3 ekor kepiting telor sedang). Setelah kenyang kami naik angkot 07 kembali ke terminal Damai. Ini adalah terminal angkot di pusat kota Balikpapan. Ongkos angkot di dalam kota Balikpapan jauh-dekat Rp 2500,- per orang.

Kami lanjutkan perjalanan dengan angkot nomor 2A ke terminal bus Batu Ampar dengan tarif Rp 10.000,- untuk dua orang. Perjalanan cukup jauh dan mendekati terminal Batu Ampar ada bis Balikpapan-Samarinda yang ngetem di perempatan. Sopir angkot berhenti dan bertanya apakah kami mau naik bis ini saja, tetapi karena bukan bus AC kami memilih untuk melanjutkan ke terminal saja.

Terminalnya cukup nyaman, bersih dan teratur. Kami segera mencari bus AC jurusan Samarinda dan akhirnya bus Cahaya Bone yang siap berangkat. Setelah 15 menit menunggu penumpang, bus ke luar dari terminal dan sampai perempatan bus berhenti untuk ngetem. Terlihat bus yang sedang ngetem segera berangkat. Ternyata di Balikpapan-Samarinda berlaku aturan bus boleh ngetem, tapi kalau bus di belakangnya sudah sampai harus berangkat berapapun penumpangnya. Dengan aturan ini tidak terlihat tumpukan antrian bus di dekat terminal, tidak ada kemacetan, dan memberi kepastian bagi penumpang. Mereka juga tidak pilih-pilih bus. Kayaknya cuma kami yang terlihat memilih-milih bus, maklum kondisi panas menyengat begini memaksa kami harus memilih bus AC. Tarif bus AC Rp 23.000,- per orang sedangkan non AC Rp 20.000,- tapi bus AC frekuensinya sangat jarang, mungkin sekitar dua jam sekali.

Setelah sekitar 7 menit ngetem dan bus di belakang datang bis kamipun berangkat ke Samarinda. Perjalanan bus sekitar 2,5 jam melalui jalan berkelok-kelok dan naik turun. Hebat juga bus dan sopirnya, mampu melewati rute ini dengan kecepatan lumayan cepat dan stabil sehingga meskipun badan berayun ke kanan kiri tapi kami bisa tertidur.

Perjalanan Balikpapan-Samarinda melewati bukit Soeharto dengan hutan dan jalannya yang berkelok-kelok dan kawasan yang akan digunakan untuk PON tahun ini. Bagian kota Samarinda yang pertama dilewati adalah daerah Samarinda Sebrang. Setelah melewati jembatan Sungai Mahakam bus menuju terminal Sei (sungai) Sekunjang. Akhirnya sampai juga kami ke kota Samarinda. Perjalanan berkeliling kota Samarinda akan saya tulis di artikel berikutnya.