Tuesday, May 13, 2008

Perjalanan ke Subang, wisata kota

Pada bulan Mei ini, wisata kota kali ini ke Subang karena saya dan istri mendapat undangan pernikahan saudara. Istri saya sudah pernah ke kota Subang tetapi sudah lama sekali sehingga tidak hapal jalan, sementara saya belum pernah ke kota Subang. Setelah mencari informasi dari berbagai sumber, kami memutuskan dari Jakarta lewat terminal Kampung Rambutan daripada dari Bandung lewat Lembang. Sebenarnya kami pingin main ke Bandung dulu, tetapi karena transportasi Bandung-Subang lebih rumit, kami memilih dari Jakarta langsung Subang. Bentuk kabupaten Subang memanjang dari pantai utaran ke selatan, berbatasan dengan Kabupaten Bandung dan Purwakarta. Kota Subang terletak di sebelah selatan sehingga lebih sejuk daripada Subang bagian pantai utara.

Kami berangkat jam 09.00 dari Depok ke Kampung Rambutan dengan angkot 112. Sampai di Kampung Rambutan, setelah sempat melalui pengalaman nggak enak di dalam terminal (cerita lengkapnya di “Terminal Kampung Rambutan yang buruk”), kami naik bus AC ke Subang (PO Warga Baru). Total perjalanan sekitar 3 jam karena banyak berhenti di luar terminal, UKI, dan banyak tempat lainnya. Perjalanan Jakarta-Subang melewati tol Cikampek, keluar Sadang Purwakarta, Kalijati, dan Berakhir di Terminal Subang. Bus sering berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Meskipun bus AC tapi bukan patas dan banyak penumpang yang berdiri, tarif Rp 15.000,- per orang.

Berdasarkan searching di internet, saya memutuskan untuk ke Subang Plaza Hotel karena letaknya di pusat kota. Dari terminal saya naik angkot sekali dengan tarif Rp 2000,- per orang. Perjalanan sekitar 10 menit melewati Jl Otista yang merupakan jalan utama di kota Subang dan kami sampai di pertigaan di depan Subang Plaza Hotel dan turun. Sayang sekali, ternyata hotelnya sudah bangkrut, kayaknya cocok banget untuk setting film horor. Bangunannya besar, dengan halaman luas, dan model lama. Berarti situs pemda Subang nggak diupdate karena masih tertulis tarifnya mulai Rp 115.000,-.

Berdasarkan info di internet ada satu hotel lagi di jalan R Suprapto, kami lupa nama dan alamatnya. Mengingat hari sudah siang dan perut keroncongan, kami akhirnya makan siang di timbel kaki lima di depan hotel Subang Plaza. Timbelnya enak, meskipun tidak seenak timbel Istiqomah Bandung (apa karena laper banget ?), tapi murah banget. Dua nasi, satu mujair, satu ikan mas, tiga tahu, ditambah sambal yang enak hanya Rp 9.500,-. “Makasih banget Pak”.

Bapak timbel ini juga informatif, hotel yang bagus katanya di Jl Otista, 50 m dari pertigaan, namanya Diamond. Ketika saya tanyakan dengan hotel lain di Jl R Suprapto (ternyata namanya hotel Sederhana) katanya lebih bagus di Diamond. Hotel lain namanya Panglejar, masuk gang. Kami memilih Diamond dan jalan kaki ke hotel tersebut.

Hotelnya lumayan, ada banyak kelas, kami memilih yang ada AC dan TV-nya dengan tarif Rp 165.000,- per malam. Capek, panas, dan kenyang, tibalah rasa kantuk, akhirnya tidur. Malam hari kami berjalan-jalan di pusat kota dan ke pasar pujasera. Menurut resepsionis hotel, pusat kota ya pertigaan Subang Plaza tadi. Kami lihat untuk ukuran malam minggu, pusat kota Subang terlalu sepi, lapangan luas di depan kantor pemerintah juga gelap. Dari pertigaan kami ke pasar Pujasera untuk mencari makan malam. Bayangan kami, pujasera artinya pusat jajanan serba ada, mirip food court di mall. Ternyata itu hanya nama untuk beberapa ruko dan di belakangnya ada pasar. Ada banyak kaki lima penjual sate, timbel, dan makanan kecil. Di pujasera ini suasananya lebih ramai. Kami memilih sate dan sop kaki kambing serta membeli beberapa gorengan.

Yang unik, penjual sate di Subang kebanyakan ibu-ibu (mungkin karena calon bupatinya perempuan). Penjual gorengan juga menjual pisang molen dan kue-kue kecil lainnya. Sayangnya sate dan sop yang kami santap rasanya kurang mantap. Satu porsi sate, sop kaki kambing, dan dua nasi Rp 24.000,-. Kayaknya lebih enak timbelnya. Saat makan, tiba-tiba turun hujan deras disertai angin kencang sehingga membatalkan kami untuk berjalan-jalan lebih jauh. Kami memutuskan untuk pulang, dan sempat melihat gang menuju hotel Sederhana yang agak gelap. Menurut resepsionis hotel, oleh-oleh ada di Pujasera ini, tapi kami hanya menemukan dodol nanas di salah satu toko. Sebelum ke hotel kami mampir dulu di Yogya Swalayan yang sangat sesak pengunjung untuk mencari oleh-oleh lain, tapi tidak ada.

Pagi harinya kami datang ke pernikahan dengan naik becak ke daerah pasar panjang. Disebut pasar panjang karena para pedagang berada sepanjang Jl Sutaatmaja. Selesai acara kami balik ke hotel dan persiapan pulang ke Jakarta. Dari hotel kami naik angkot ke terminal bus Subang. Selama dua hari di Subang kami melihat bahwa angkot disini agak sepi penumpang sehingga sering ngetem. Kami memilih angkot yang hampir penuh supaya tidak ngetem. Angkot yang kami naiki ternyata sebenarnya bukan rute terminal, tapi ia mau mengantarkan kami ke terminal tanpa tambahan biaya. Sebelum sampai terminal dan di terminal, kami melihat beberapa angkutan ke Lembang, mobilnya model Elf lama. Kami beruntung lewat Jakarta dan tidak lewat Bandung, kebayang panas dan sesak di dalam elf tersebut, padahal perjalanan juga tidak dekat.

Sampai di terminal Subang kami naik bus AC jurusan Lebak Bulus. Selain karena trauma kejadian di Kampung Rambutan, bus ini juga berhenti di Pasar Rebo, jadi kami lebih cepat ke Depok. Tarif Subang-Lebak Bulus sama Rp 15.000,- per orang, busnya juga PO Warga Baru, kayaknya memang PO ini yang menguasai rute Jakarta-Subang. Perjalanan Subang-Jakarta tiga jam juga, penumpang lebih banyak yang berdiri, kebanyakan naik dari Kalijati. Rutenya sama, Kalijati, Sadang, Tol Cikampek, keluar Cawang, masuk Tol lagi dan keluar di Pasar Rebo. Di Pasar Rebo kami turun dan naik angkot ke Depok. Berakhirlah perjalanan wisata kota Sabtu-Minggu kali ini ke Subang.

Sayangnya tidak banyak oleh-oleh yang bisa dibawa. Warung oleh-oleh terlihat banyak di pinggir jalan menuju Kalijati. Selain buah nanas dan olahannya yang jadi hasil utama Subang, juga ada krupuk sangrai. Kami tidak mungkin turun dari bus untuk membeli oleh-oleh di pinggir jalan. Sepertinya warung oleh-oleh dikhususkan untuk mereka yang naik mobil pribadi.

Kesan kami, kota ini masih sepi, kurang berkembang meskipun dekat Jakarta dan banyak orang yang mengenalnya.

ulee06 said...

betul, Mas. jangan dibandingin sama depok ya. saya juga bukan orang Subang, lagi singgah neh, Alhamdulillah ketemu teman-teman yang se visi. Sekaran ini kami sedang menggarap wisata subang dan dipromosikan secara online, mudah-mudahan bisa mengangkat perkembangan wilayah subang, terutama wisatanya. Kalo ga sibuk mangga diunggah situsnya di www.subangonline.web.id (sedang dalam perbaikan) atau www.subangonline.wordpress.com.

thank's ya Mas dah berkunjung ke Subang.

ain said...

pengen update informasi perjalanan subang-jakarta silakan kunjungi http://kampoengcinungku.blogspot.com
soale saya kerja di jakarta yang penuh misteri dan tinggal di subang bagian selatan yang penuh misteri juga tapi nyaman...

Anonymous said...

P.O Warga Baru tarif ac pd tgl o6-11-09 naik Rp.3000,-(biasa Rp.17000,-jadi Rp.20000,-).
Tarip yg non ac naik Rp.1000,-(biasa Rp.17000,-jadi Rp.18000,-).
Soal Kenaikan tarip tak jelas!!! Apa betul/dibikin-bikin mumpung negara lagi kisruh???
komitmen donk,yg jelas!
Kalo PO Kramajati biarpun Rp.500,- pasti kembalian disiapin.
PO Warga Baru kembalian malah dlupa-lupain.

riza said...

Terimakasih atas informasinya. Saya mau ke subang berkunjung ke situs pemkab subang dan mau menginap di hotel Plaza Suabng itu. kalau saya tidak baca situs ini bisa jadi saya tersesat tak menyangka kalau hotel itu sudah bangkrut.

bina said...

subang memalukan yah..., saya malu sebagai orang subang asli. hehe

Subhan Anas said...

Terimakasih banyak informasinya Pak, tulisan bapak sangat bermanfaat bagi para pengungjung Kota Subang, semoga Tuhan YME memberikan balasan yang setimpal, Amin!

Salam

Subhan

Anonymous said...

tks banyak infonya...